Description
JUDUL BUKU : IMAJINASI INDONESIA – KRISTEN DI PERBATASAN: MAKNA POLITIS SIMBOL MERAH-PUTIH PADA LOGO SINODE BAGI NASIONALISME GEREJA MASEHI INJILI DI TALAUD
PENULIS : Okrisye Lantaka
EDITOR : Prof. Dr. Hj. Hasanah Nur, M.T.
HALAMAN : xxvii, 112
SINOPSIS :
Tulisan ini mengkaji simbol Merah–Putih dalam logo Sinode GERMITA sebagai representasi identitas nasional, imajinasi Keindonesiaan, dan konstruksi nasionalisme masyarakat Kristen di wilayah perbatasan Indonesia–Filipina. Kajian ini berangkat dari peristiwa demonstrasi dan pengibaran bendera Filipina di Riung pada 18 Agustus 2021 yang merefleksikan dua realitas simultan: lemahnya internalisasi imajinasi Keindonesiaan pada sebagian warga GERMITA, sekaligus adanya pengalaman marginalitas masyarakat perbatasan dalam relasinya dengan negara.
Penelitian ini menelaah proses konstruksi simbolik logo GERMITA, khususnya pita Merah–Putih, dalam konteks historis dan sosiologis masyarakat Talaud. Secara historis, simbol tersebut memiliki keterkaitan dengan Gerakan Merah Putih di Lirung yang dipelopori Pasukan Angkatan Muda Indonesia Lirung (PAMIL) sejak tahun 1933 sebagai manifestasi awal nasionalisme masyarakat Talaud. Dengan demikian, imajinasi Keindonesiaan dalam Kekristenan Talaud sesungguhnya telah terbentuk sebelum institusionalisasi GERMITA.
Dalam konteks kontemporer, nasionalisme dimaknai bukan lagi melalui perjuangan fisik, melainkan melalui kontribusi gereja terhadap pembangunan sosial, kesejahteraan masyarakat, dan penguatan integrasi nasional di kawasan perbatasan. Bagi warga GERMITA, logo gereja berfungsi sebagai sistem simbol yang merepresentasikan identitas kolektif, solidaritas sosial, serta komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Namun demikian, penelitian ini menemukan bahwa proses internalisasi imajinasi Keindonesiaan belum berlangsung secara optimal dalam kehidupan jemaat. Pemaknaan nasionalisme lebih banyak berkembang melalui pengalaman sosial sehari-hari dibandingkan melalui proses sosialisasi institusional gereja. Akibatnya, imajinasi Keindonesiaan cenderung terkonsentrasi pada level institusi sinode dan belum sepenuhnya terinternalisasi dalam kesadaran kolektif warga gereja. Oleh karena itu, diperlukan upaya penguatan internalisasi nasionalisme melalui pendekatan kearifan lokal (local wisdom) masyarakat Talaud. Nilai-nilai budaya lokal, memori kolektif perjuangan masyarakat perbatasan, serta simbol-simbol budaya dapat dijadikan medium strategis untuk membangun kesadaran kebangsaan yang lebih kontekstual, partisipatif, dan berakar pada pengalaman hidup masyarakat setempat.





Reviews
There are no reviews yet.