Description
JUDUL EBOOK : KEBIJAKAN PUBLIK SEKTOR PARIWISATA : PERSPEKTIF, TATA KELOLA, TRANSFORMASI DIGITAL, DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
PENULIS : Dr. Sisca Beatrix Kairupan, MSi Jeane Mantiri, S.AB.,MAP
HALAMAN :vi, 77
SINOPSIS :
Pariwisata, yang sering digambarkan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi dan pembangunan daerah, menyimpan narasi lain yang jarang terungkap: kisah tentang nelayan yang kehilangan laut, ibu rumah tangga yang digusur dari tanah warisan, dan anak-anak muda yang lupa bahasa daerahnya. Buku ini hadir sebagai refleksi kritis atas paradoks tersebut, menegaskan bahwa pariwisata bukan hanya soal angka-angka kunjungan atau pendapatan daerah, melainkan medan uji bagi nilai-nilai publik—keadilan sosial, kedaulatan lokal, dan keberlanjutan peradaban.
Berdasarkan pengalaman akademik dan praktis di bidang administrasi publik, penulis mengajak pembaca untuk melampaui wacana teknokratis yang dominan. Buku ini membongkar tiga pilar utama dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan: ekologi, budaya, dan keadilan sosial, dengan argumen bahwa ketiganya tak bisa dipisahkan. Melalui studi kasus mendalam seperti Bali, Labuan Bajo, Borobudur, dan Wakatobi, buku ini memperlihatkan bagaimana kebijakan nasional yang sentralistik dan investasi besar justru kerap mengabaikan komunitas lokal, menghancurkan ekosistem, dan mengkomersialkan budaya sakral.
Lebih jauh, buku ini membahas tantangan era digital, di mana algoritma platform global menjadi arsitek tak terlihat destinasi wisata, sementara data dan narasi lokal dikuasai oleh korporasi transnasional. Di tengah dinamika itu, penulis menawarkan visi alternatif: pariwisata sebagai proses ko-kreasi nilai publik, di mana negara, pasar, dan masyarakat sipil bekerja secara setara. Dalam model ini, masyarakat bukan objek pemberdayaan, melainkan subjek utama yang memiliki otoritas atas ruang hidup mereka sendiri.
Ditujukan bagi mahasiswa doktoral, birokrat, pembuat kebijakan, dan aktivis, buku ini adalah panggilan untuk melakukan transformasi epistemologis: dari logika pertumbuhan semata menuju logika keadilan dan martabat. Ia juga merupakan ajakan etis: bahwa keberhasilan suatu destinasi tidak diukur dari seberapa viralnya, tetapi dari seberapa tenang seorang nenek masih bisa duduk di teras rumahnya, melihat laut leluhurnya, tanpa rasa takut kehilangan tanah, budaya, atau hak-haknya. Pariwisata yang layak diperjuangkan bukan yang menguntungkan segelintir elite, melainkan yang memastikan warga lokal tetap menjadi tuan rumah di tanah air mereka sendiri.





Reviews
There are no reviews yet.